Shalat Fardlu dengan Duduk di Tribun GBK, Tidak Sah dan Berdosa
Cari Berita

Advertisement

Shalat Fardlu dengan Duduk di Tribun GBK, Tidak Sah dan Berdosa

Redaksi
Senin, 08 April 2019

Ngaji.web.id - Viral video di medsos Shalat kampanye di GBK tapi dengan cara duduk di tribun, padahal Shalat Fardlu dan ia mampu berdiri serta diluar tribun masih banyak tempat. Bagaimana Fiqih menanggapi?



Di dalam kitab-kitab fikih Syafi’iyah para ulama menyebutkan ada 17 (tujuh belas) hal yang termasuk rukun shalat, baik shalat fardlu maupun shalat sunah. Penyebutan tujuh belas hal ini bila empat tuma’ninah yang ada di dalamnya masing-masing dianggap sebagai rukun tersendiri. Bila keempat tuma’ninah tersebut hanya dianggap sebagai satu rukun maka rukun shalat hanya berjumlah 14 (empat belas) saja.

Di antara rukun-rukun itu salah satunya adalah berdiri. Berdiri adalah satu kewajiban yang harus dilakukan ketika seseorang melaksanakan ibadah shalat. Juga berarti bahwa shalat dikatakan sah apabila dilakukan dengan berdiri.

Hal ini ditetapkan oleh para ulama dengan berdasar kepada sabda Rasulullah SAW ketika sahabat Imran bin Hushain yang terkena sakit wasir bertanya perihal bagaimana shalatnya. Beliau bersabda sebagai berikut.

صَلِّ قَائِمًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ

Artinya, “Lakukanlah shalat dengan berdiri. Bila kau tak mampu, maka dengan duduk. Bila kau tak mampu juga, maka dengan tidur miring,” (HR Imam Bukhari).

Dari hadits tersebut para ulama mengambil satu simpulan hukum bahwa berdiri adalah satu kewajiban yang mesti dilakukan oleh orang yang melakukan shalat. Kebolehan shalat sambil duduk atau tidur miring berlaku bila orang yang shalat karena alasan tertentu tidak mampu berdiri.

Shalat dengan duduk

Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallâhu ‘alahi wa sallam bersabda :

.مَنْ صَلَّى قَائِماً فَهُوَ أَفْضَلُ، وَمَنْ صَلَّى قَاعِداً فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ الْقَائِمِ، وَمَنْ صَلَّى نَائِماً فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ الْقَاعِدِ 
Artinya; "Barangsiapa shalat dengan berdiri, maka itulah shalat yang paling utama, sedangkan seseorang yang shalat dengan duduk, maka pahalanya setengah dari pahala orang yang shalat dengan berdiri. Dan barangsiapa shalat dengan berbaring, maka pahalanya setengah dari pahala orang yang shalat dengan duduk".
(HR Bukhari, Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah)

Ketika menjelaskan hadits di atas, Imam Nawawi dalam Syarhul Muslim-nya :

وَهذَا الْحَدِيْثُ مَحْمُوْلٌ عَلَى صَلاَةِ النَّفْلِ قَاعِداً مَعَ الْقُدْرَةِ عَلَى الْقِيَامِ فَهذَا لَهُ نِصْفُ ثَوَابِ الْقَائِمِ، وَأَمَّا إِذَا صَلَّى النَّفْلَ قَاعِداً لِعَجْزِهِ عَنِ الْقِيَامِ فَلاَ يَنْقُصُ ثَوَابُهُ بَلْ يَكُوْنُ كَثَوَابِهِ قَائِماً، وَأَمَّا الْفَرْضُ فَإِنَّ الصَّلاَةَ قَاعِداً مَعَ قُدْرَتِهِ عَلَى الْقِيَامِ لَمْ يَصِحَّ فَلاَ يَكُوْنُ فِيْهِ ثَوَابٌ بَلْ يَأْثَمُ بِهِ 
Artinya: "Hadits ini ditujukan untuk shalat Sunnah yang dilakukan dengan duduk sedangkan ia sebenarnya mampu untuk berdiri, sehingga ia hanya mendapatkan pahala setengah pahala orang yang shalat Sunnahnya dengan berdiri.
Adapun seseorang yang shalat Sunnah dengan duduk karena ia tidak mampu berdiri, maka pahalanya tidak berkurang, ia akan mendapatkan pahala sama dengan orang yang shalat Sunnah dengan berdiri.
Sedangkan seseorang yang shalat Fardlu dengan duduk padahal ia mampu berdiri, maka shalatnya tidak sah, ia tidak mendapatkan pahala, bahkan ia berdosa".

Jadi Shalat Fardlu wajib dengan berdiri jika mampu, sedangkan jika ia shalat sambil duduk maka tidak sah plus berdosa.

Shalat Fardlu Boleh Duduk ketika Darurat

Terdapat beberapa pengecualian dari kewajiban berdiri saat Shalat fardlu yaitu:
1. Bagi orang yang takut tenggelam di atas kapal laut. Boleh baginya shalat fardhu dalam keadaan duduk dan tidak ada kewajiban untuk mengulangnya.
2. Bagi orang yang salsul baul (beser), yang apabila ia shalat sambil berdiri dapat menyebabkan urinenya keluar. Boleh baginya shalat fardhu dalam keadaan duduk dan tidak ada kewajiban untuk mengulangnya.
3. Tentara yang sedang berada dalam keadaan peperangan, yang jikalau ia shalat sambil berdiri dapat terlihat oleh musuh. Atau duduk di tempat persembunyian, jikalau ia berdiri maka musuh dapat melihatnya. Maka dibolehkan shalat fardhu sambil duduk. Akan tetapi, kasus seperti ini dianggap sebagai kasus yang jarang terjadi, sehingga diwajibkan untuk mengulang kembali shalat tersebut ketika telah aman.

--
Redaksi Ngaji.web.id