Ikhtilath Karena Politik Tidak Bisa Dikategorikan Dlarurat Sebagaimana Haji
Cari Berita

Advertisement

Ikhtilath Karena Politik Tidak Bisa Dikategorikan Dlarurat Sebagaimana Haji

Redaksi
Minggu, 07 April 2019

SHOF CAMPUR Dalam Kampanye 02 Di GBK JAKARTA

Disadur dari Kyai Zahrowardi


Kajian Hukum fiqh:

1. Urutan shof dalam berjamaah bila dalam satu bangunan/lokasi adalah laki2 dewasa, anak2 kemudian wanita. Bl menyalahi urutan nya maka keutamaan jamaah (pahala 27 derajat) hilang, sebagaian ulama berpendapat keutamaan shofnya yang hilang (Fathul Mu'in Bab Sholat Jamaah)

2. Sedangkan bila campur dalam satu shof/sejajar hukumnya MAKRUH. Tentang hukum ke absahan sholatnya ada 2 pendapat: Hukumnya Sah, seperti pendapat Imam Syafi'i dan Imam Malik. Pendapat ke 2 Hukumnya BATAL. Pendapat ini disampaikan oleh Abu Hanifah, Syekh Abu Bakar dan Abu Hafsh dari Ulama Madzhab Hambali.(al-Fatawa al-Kubro, 2/325)

3. Bersentuhan kulit antara laki2 dan perempuan yang bukan mahram, disengaja/tidak menurut mayoritas ulama hukum nya batal. Dalam situasi padat berdesakan seperti itu sangat mungkin terjadi.(Fathul Mu'in Bab Wudlu')

4. Keabsahan sholat bukan berarti aman dari hukum haram, bila dalam pelaksanaannya melanggar aturan Alloh. Semisal tempat yg dipakai adalah ghosoban atau dalam pelaksanaan nya terjadi campur baur laki2 vs Perempuan hingga timbul fitnah dan sejenisnya (Al Bajuri Bab Sholat)

5 . Apakah situasi tersebut bukan masuk hajat syadidah atau dlorurot?
Betul, situasi memang padat dan berdesakan. Namun, SEMUA YANG HADIR tujuan nya adalah POLITIK. Bukan IBADAH MURNI. Sangat berbeda dengan situasi haji semisal.
Jadi?!?!

6. Wal Hasil.....
SH0F CAMPUR dalam sholat jamaah dengan tujuan utama KAMPANYE, berdesakan laki2 bukan mahram, itu ibarat SOP buntut sapi, CAMPUR dengan Es Cream. Sama2 enak dan mahal, tapi bila CAMPUR jadi satu, hemmm... Bukan hanya tidak enak, tapi bisa bikin MURUS.

Fahamkan???

Wallohul Musta'an...

(Kyai Zahro Wardi, Komisi Maudluiyyah PWNU Jatim)