Archive Pages Design$type=blogging

Haji Berulang Kali, Mengikuti Perintah Setan

Ngaji.web.id - Kendati ibadah haji telah ada sejak masa Nabi Ibrahim, bagi umat Islam, ia baru diwajibkan pada tahun 6 H. Walau begitu...

Haji Berulang Kali, Mengikuti Perintah Setan
Ngaji.web.id - Kendati ibadah haji telah ada sejak masa Nabi Ibrahim, bagi umat Islam, ia baru diwajibkan pada tahun 6 H. Walau begitu, Nabi SAW dan para sahabat belum dapat menjalankan ibadah haji karena saat itu Mekkah masih dikuasai kaum musyrik. Setelah Nabi SAW menguasai Mekkah (Fath Makkah) pada 12 Ramadan 8 H, sejak itu beliau berkesempatan beribadah haji.

Namun Nabi SAW tidak beribadah haji pada 8 H itu. Juga tidak pada 9 H. Pada 10 H, Nabi SAW baru menjalankan ibadah haji. Tiga bulan kemudian, Nabi SAW wafat. Karenanya, ibadah haji beliau disebut haji wida' (haji perpisahan).

Itu artinya, Nabi SAW berkesempatan beribadah haji tiga kali, namun beliau menjalaninya hanya sekali. Nabi SAW juga berkesempatan umrah ribuan kali, namun beliau hanya melakukan umrah sunah tiga kali dan umrah wajib bersama haji sekali. Mengapa?

Sekiranya haji dan atau umrah berkali-kali itu baik, tentu Nabi SAW lebih dahulu mengerjakannya, karena salah satu peran Nabi SAW adalah memberi uswah (teladan) bagi umatnya. Selama tiga kali Ramadan, Nabi SAW juga tidak pernah mondar-mandir menggiring jamaah umrah dari Madinah ke Mekkah.

Dalam Islam, ada dua kategori ibadah: ibadah qashirah (ibadah individual) yang manfaatnya hanya dirasakan pelakunya dan ibadah muta'addiyah (ibadah sosial) yang manfaatnya dirasakan pelakunya dan orang lain. Ibadah haji dan umrah termasuk ibadah qashirah. Karenanya, ketika pada saat bersamaan terdapat ibadah qashirah dan muta'addiyah, Nabi SAW tidak mengerjakan ibadah qashirah, melainkan memilih ibadah muta'addiyah.

Menyantuni anak yatim, yang termasuk ibadah muta'addiyah, misalnya, oleh Nabi SAW, penyantunnya dijanjikan surga, malah kelak hidup berdampingan dengan beliau. Sementara untuk haji mabrur, Nabi SAW hanya menjanjikan surga, tanpa janji berdampingan bersama beliau. Ini bukti, ibadah sosial lebih utama ketimbang ibadah individual.

Ketika banyak anak yatim telantar, puluhan ribu orang menjadi tunawisma akibat bencana alam, banyak balita busung lapar, banyak rumah Allah roboh, banyak orang terkena pemutusan hubungan kerja, banyak orang makan nasi aking, dan banyak rumah yatim dan bangunan pesantren terbengkalai, lalu kita pergi haji kedua atau ketiga kalinya, kita patut bertanya pada diri sendiri, apakah haji kita itu karena melaksanakan perintah Allah?
 

Ayat mana yang menyuruh kita melaksanakan haji berkali-kali, sementara kewajiban agama masih segudang di depan kita? Apakah haji kita itu mengikuti Nabi SAW? Kapan Nabi SAW memberi teladan atau perintah seperti itu? Atau, sejatinya kita mengikuti bisikan setan melalui hawa nafsu agar di mata orang awam kita disebut orang luhur? Apabila motivasi ini yang mendorong kita, berarti ibadah haji kita bukan karena Allah, melainkan karena setan."
 

Jam terbang iblis dalam menggoda manusia sudah sangat lama. Ia tahu betul apa kesukaan manusia. Iblis tidak akan menyuruh orang yang suka beribadah untuk minum khamr. Tapi, Iblis menyuruhnya, antara lain, beribadah haji berkali-kali. Ketika manusia beribadah haji karena mengikuti rayuan iblis melalui bisikan hawa nafsunya, saat itu tipologi haji pengabdi setan telah melekat padanya.

Ditegaskan Imam Al-Ghazali sedari dulu. Dalam kitab Ihya Ulumuddin jilid tiga, ia menjelaskan panjang lebar terkait tipu daya. Siapa saja bisa terpedaya baik orang berilmu, sufi, maupun pemilik harta. Khusus bagi orang berharta (arbabul mal), di antara bentuk tipu dayanya adalah sebagai berikut:


وربما يحرصون على إنفاق المال في الحج فيحجوت مرة بعد أخرى وربما تركوا جيرانهم جياعا ولذلك قال ابن مسعود في آخر الزمان يكثر الحاج بلا سبب يهون عليهم السفر ويبسط لهم في الرزق ويرجعون محرومين مسلوبين يهوي بأحدهم بعيره بين الرمال والقفار وجاره مأسور إلى جنبه لا يواسيهِ

Artinya, “Mereka bersikeras mengeluarkan harta untuk pergi haji berulang kali dan membiarkan tetangganya kelaparan. Ibnu Mas’ud berkata, ‘Pada akhir zaman, banyak orang naik haji tanpa sebab. Mudah bagi mereka melakukan perjalanan, rezeki mereka dilancarkan, tapi mereka pulang tidak membawa pahala dan ganjaran. Salah seorang mereka melanglang dengan kendaraannya melintasi sahara, sementara tetangganya tertawan di hadapannya tidak dihiraukannya.”

Mereka menyangka dengan menghabiskan harta untuk naik haji berulang kali itu dianggap lebih mulia di sisi Allah, ketimbang mendermakan harta untuk fakir miskin. Inilah salah satu bentuk tipu daya bagi orang berharta menurut Al-Ghazali. Lebih baik kelebihan harta yang dimiliki diprioritaskan untuk membantu fakir miskin, pesantren yang terbengkalai, anak sekolah yang serba kekurangan, dan amal sosial lainnya.

Karenanya, kita perlu membuat skala prioritas dalam beribadah. Ketika di hadapkan dengan banyak peluang beribadah, pilihlah ibadah yang lebih banyak maslahatnya, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

Sebagaimana dikatakan ‘Izzuddin bin ‘Abdul Salam dalam Qawaidul Ahkam fi Mashalihil Anam, “Apabila dihadapkan dua kemaslahatan dalam satu waktu, usahakan melakukan keduanya. Bila tidak mungkin, dahulukanlah mana yang paling maslahat dan utama,” 


Kaum bijak bestari pernah mengatakan:
إلى كل من يتباهون بكثرة الحج والعمرة والطواف بالكعبة طوفوا حول الفقراء حتما ستجدون الله عند كل فقير
"Kepada semua orang yang berbangga-bangga pernah haji berkali-kali, umrah berkali-kali, thawaf di Ka'bah berkali-kali, berthawaflah kalian di sekeliling orang-orang faqir-miskin niscaya kan kau temukan Allah bersama mereka."

Sumber:
- KH Mustafa Ya'kub, Haji Pengabdi Setan
- Hengky Ferdiansah, NU Online

Jama'aha: Hamim Mustofa Nerashuke
Kritik, saran, kirim informasi, artikel, Donasi dan pasang iklan, kirimkan melalui email: redaksi.ngaji@yahoo.com

COMMENTS

Name

#Trending Akhlaq dan Tasawuf Al-Islam Aqidah Berkeluarga Bermasyarakat Doa dan Wirid Female Firqah Haji Hikmah Hujjah Ibadah Kisah Teladan Kitab Kuning Kolom Ulama Pemerintah Puasa Ramadhan Shalat Syariah Syatta Syiah Tajhizul Janazah Taushiah Ushul dan Kaedah Fiqh Wahhabi
false
ltr
item
Ngaji Kitab Kuning: Haji Berulang Kali, Mengikuti Perintah Setan
Haji Berulang Kali, Mengikuti Perintah Setan
https://1.bp.blogspot.com/-utWRLYShMEM/V7_hxAhnL3I/AAAAAAAAIVI/5uCeH0mZ1U040A9deWpDjJ66Rwc91s7lgCLcB/s640/kabah_haji.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-utWRLYShMEM/V7_hxAhnL3I/AAAAAAAAIVI/5uCeH0mZ1U040A9deWpDjJ66Rwc91s7lgCLcB/s72-c/kabah_haji.jpg
Ngaji Kitab Kuning
http://www.ngaji.web.id/2016/08/haji-berulang-kali-mengikuti-perintah.html
http://www.ngaji.web.id/
http://www.ngaji.web.id/
http://www.ngaji.web.id/2016/08/haji-berulang-kali-mengikuti-perintah.html
true
892498653832738656
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago