Diperbolehkan Mondok Ke Pesantren Tanpa Izin Orang Tuanya
Cari Berita

Advertisement

Diperbolehkan Mondok Ke Pesantren Tanpa Izin Orang Tuanya

Redaksi Ngaji.web.id
Minggu, 06 Desember 2015

Diperbolehkan Mondok Ke Pesantren Tanpa Izin Orang Tuanya
Ngaji.web.id - Dalam islam restu orang tua sangatlah penting, karena Restu/ridha Allah tergantung Ridha Orang Tua, namun ketika seorang anak ingin mondok tapi tidak diperbolehkan oleh oarng tuanya dan ia berangkat tanpa restu, bolehkah?

و ) حرم السفر لجهاد وحج تطوع بلا إذن ( أصل ) مسلم أب وأم وإن عليا ولو أذن من هو أقرب منه وكذا يحرم بلا إذن أصل سفر لم تغلب فيه السلامة لتجارة ( لا ) سفر ( لتعلم فرض ) ولو كفاية كطلب النحو ودرجة الفتوى فلا يحرم عليه وإن لم يأذن أصله( قوله فلا يحرم ) أي السفر لما ذكر لكن بشرط أن يكون أمنا أو قل خطره ولم يجد ببلده من يصلح لكمال ما يريده أو رجا بقرينة زيادة فراغ أو إرشاد أستاذ وأن يكون رشيدا وأن لا يكون أمرد جميلا إلا أن يكون معه محرم يأمن على نفسه( قوله ولو كفاية ) أي ولو كان الفرض كفاية من علم شرعي كطلب درجة الفتوى أو آلة له كطلب نحو أو صرف أو منطق


Dan haram bepergian untuk jihad, haji yang sunnah tanpa seizin keluarga pangkalnya (ayah, ibu dan jalur keluarga keatas/kakek, nenek dst.) yang muslim meskipun kerabatnya yang lain merestuinya, begitu juga haram tanpa izin mereka bepergian untuk berdagang pada tujuan yang secara umum orang tidak akan selamat.

Tidak haram bepergian meskipun tanpa seizin mereka untuk belajar ilmu yang wajib meskipun wajib yang tergolong kifayah seperti belajar ilmu nahwu dan mencari derajat fatwa.(Keterangan Tidak haram bepergian meskipun tanpa seizin mereka untuk belajar ilmu) namun dengan berbagai persyaratan :

• Aman atau tidak terdapati bahaya yang mengancam

• Didaerahnya tidak ditemukan orang yang mampu mengajari ilmu yang ia inginkan dengan sempurna, atau ia berharap didaerah lain kemampuan ilmunya menjadi bertambah

• Ia sudah rasyid (berumur dewasa)

• Ia tidak amraad (lelaki tampan yang dikhawatirkan mendapat gangguan) kecuali saat ia bersama mahramnya yang dapat menjamin keamanannya.

(Keterangan meskipun ilmu yang dihukumi fardhu kifayah menuntutnya) seperti belajar ilmu nahwu dan mencari derajat fatwa ilmu alat, nahwu, shorof atau manthiq.

I’aanah at-Thoolibiin IV/196

Wallaahu A'lamu Bis showaab.