Mengenal Darah haid, Nifas Dan Istihadhah
Cari Berita

Advertisement

Mengenal Darah haid, Nifas Dan Istihadhah

Redaksi Ngaji.web.id
Rabu, 22 April 2015

Mengenal Darah haid, Nifas Dan Istihadhah
Suatu hal yang menjadi problem bagi para muslimah. Dan memang Permasalahan yang begitu kompleks. Bahkan ada seorang ulama' yang ditanya sahabatnya "Wahai Syaikh, mengapa dalam kitab karanganmu tidak ada bab Haid, Nifas dan Istihadhah?
Beliau pun menjawab, Bagaimana aku akan menulis bab itu, kita (lelaki) tak mengalaminya, dan wanita tak ada yang bertanya padaku..

Banyak hal yang menyebabkan perempuan mengalami pendarahan tidak teratur, atau yang lebih sering disebut Istihadhah. Namun secara garis besar ada 2 faktor yang sangat mempengaruhi yaitu :

1. FAKTOR PSIKOLOGIS
Keadaan psikologi seseorang sangat berperan penting dalam mempengaruhi kestabilan & keteraturan Haid. Gangguan emosianal yg tak terkendali, ketegangan berfikir (makanya cewe pling suka nyantai2.. hehe), tekanan pekerjaan masalah keluarga, ketakutan yang terpendam sangat berpotensi merusak siklus Haid. Ini semua terjadi karena tekanan yg mempengaruhi kinerja otak yg kemudian mempengaruhi siklus pelepasan hormon yang merangsang terganggunya SISTEM OVULASI.

2. FAKTOR KESEHATAN
Pemakaian alat kontrasepsi yang tidak sesuai dengan kondisi pemakainya juga dapat mengakibatkan istihadhah. Wanita yg sering menggunakan pil KB atau suntik KB, kemudian dia berhenti karena mungkin ingin mempunyai anak lagi sangat rentan mengalami istihadhah. Hal ini dikarenakan terjadi kegagalan indung telur dalan menghasilkan telur. Makanya Islam sangat tidak menganjurkan seseorang untuk ber-KB.

Kemudian Apakah Istihadhah itu?

و الإستحاضة : الدم الخارج في غير أيام الحيض و النفاس لا على سبيل الصحة من عرق في أدنى الرحم.
(إعانة المبتدين ببعض فروع الدين)
Istihadhah ialah darah yang keluar di luar hari-hari haid dan nifas, tidak dengan sebab sehat (suatu penyakit). Yang keluar dari otot dibawah Rahim.
(Lihat: I'anah al-Mubtadin bi Ba'dli Furu'i ad-Din hal 50)

Setelah kita mengetahui definisi istihadhah
, alangkah baiknya kita mengetahui warna-warna darah yg keluar dari farji seorang wanita.

دماء الإستحاضة خمسة أسود و أحمر و أشقر و أصفر و أكدر. فالأسود قوي و الأحمر ضعيف بالنسبة لأسود قوي بالنسبة للأشقر و الأشقر أقوى من الأصفر و الأصفر أقوى من الأكدر.
(التقريرات السديدة ص 167)
Darah Istihadhah ada 5.
¤ Merah kehitaman (Coklat Tua)
¤ Merah
¤ Merah kekuningan
¤ Kuning
¤ Kuning keputih-putihan (Keruh)

Darah Merah kehitaman (Coklat Tua) adalah darah kuat. Darah Merah itu lemah bila di bandingkan pada darah Merah kehitaman (Coklat Tua), dan kuat bila dibandingkan darah Merah kekuningan. Darah Merah kekuningan lebih kuat dari darah Kuning. Darah Kuning lebih kuat dari darah Kuning keputih2an (Keruh).
(Lihat: Taqriroh as-Sadidah hal 167)

فالمستحاضات أربع.
الأولى : المميزة, و هي التي تعرف صفة الدم.
الثانية : المعتدة, و هي التي تحفظ عادتها و ليست بمميزة.
الثالثة : المبتدأة, و هي التي حاضت أول مرة فاستحيضت و استمر بها الدم.
الرابعة : المتحيرة, و هي الت نسيت عادتها و لا تمييز لها.
(الخلاصة المختصر و نقاوة المعتصر لحجة الإسلام و بركة الأنام الإمام أبي حامد محمد بن محمد بن محمد الغزالي ص 85)
Wanita istihadhah/Mustahadhah ada 4.
Pertama : Mumayyizah, yaitu wanita yang mengetahui Sifat-sifat darah.
Kedua : Mu'tadah, yaitu wanita yg mengetahui adat/kebiasaannya/sudah pernah haid dan sudah pernah suci, tapi tidak Mumayyizah (tidak mengetahui Sifat2 darah)
Ketiga : Mubtadi_ah atau mubtada'ah, yaitu wanita yg Haid untuk pertama kali kemudian istihadhah dan darah tetap padanya.
Keempat : Mutahayirah, yaitu wanita yang lupa adat/kebiasaannya (dalam haid) juga tidak Mumayyizah (tidak mengetahui Sifat-sifat darah).
(Lihat : al-Khulasoh al-Mukhtashor wa Naqowah al-Mu'tashor karangan Hujjatul Islam dan Barakatul Anam Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghozali hal 85)

Dari ke 4 macam tersebut itulah akan ada 7 bentuk/contoh Musthahadhah(wanita Istihadhah).

1. MUBTADI_AH MUMAYYIZAH
Pengertiannya seperti yang telah kami utarakan diatas yaitu Wanita yg baru pertama keluar darah dan tahu/dapat membedakan sifat-sifat atau warna darah.

HUKUMNYA : Darah yg kuat (lihat perbedaan warna) itu haid, darah yangg lbih lemah itu istihadloh.
Dengan syarat, (Syarat Tamyiz)
A. Darah kuat tidak kurang dari batas mimimal haid (lbih tau pas 24 jam)
B. Darah kuat tidak melebihi dari batas maksimal haid (15 hari, 15 malam)
C. Darah lemah tidak kurang dari batas minimal suci (15 hari, 15 malam)
D. Darah lemah harus terus-menerus/menyambung (tidak terputus)
Apabila salah 1 syarat di atas tidak ada, maka dia tidak bisa di golongkan pada Mumayyizah.

MISAL : Ada wanita yg berkata, Aku mengeluarkan darah untuk pertama kali selama 20 hari berturut-turut, 3 hari darah Merah kehitaman (Darah Kuat) dan 17 hari darah Merah (Darah lemah). Maka bisa qta hukumi, bahwa Haidnya 3 hari, dan istihadlohnya 17 hari.
Atau,
Ada wanita mengeluarkan,
Darah hitam........... 5 hari
Darah kuning..........17 hari
Darah hitam lagi.......6 hari
------------------------
Maka haidnya ............. 5 hari
Istihadloh ................ 17 hari
Haid lagi................... 6 hari

2. MUBTADI_AH GHOIRU MUMAYYIZAH
Wanita keluar darah pertama kali tapi tidak dapat membedakan sifat-sifat darah.
Atau juga Mubtadi_ah Mumayyizah tapi kurang salah satu sarat tamyiz nya.

HUKUMNYA : Apabila dia tahu/ingat waktu pertama/mulainya keluar darah, maka Haidnya 1 hari 1 malam (24 jam), dan sucinya hari-hari selanjutnya. Namun jika dia tidak tahu/ingat waktunya maka dia termasuk Mutahayiroh.

MISAL : Wanita keluar darah selama 17 hari degan warna dan sifat yg sama. Maka dapat di hukumi haidnya 1 hari 1 malam, selebihnya istihadhah.
Atau,
Wanita mengeluarkan darah sebagai berikut :
Darah merah.......... 20 hari
Darah kuning........... 6 hari
------------------------
karena darah merah (baca ; kuat) melebihi batas maksimal haid (15 hari 15 malam)
maka dihukumi haid nya 1 hari pertama dan istihadloh 25 hari selanjutnya.

3. MU'TADAH MUMAYYIZAH
Wanita yg sudah pernah haid dan sudah pernah suci serta dapat membedakan warna/sifat darah.

HUKUMNYA : Dihukumi dengan hukum Tamyiz (darah kuat Haid, darah lemah istihadhah.) meskipun bertentangan dgn kebiasaan haidnya.

MISAL : Wanita mempunyai kebiasaan mengeluarkan darah selama 5 hari tiap awal bulan (1 pai 5). Dan di bulan lain dia keluar darah selama 25 hari
Darah Merah kehitaman.10 hari
Darah Merah...................15 hari
-------------------------
maha haidnya ............ 10 hari (karena darah kuat)
istihadlah ................. 15 hari
Atau,
Wanita sudah pernah haid dan suci mengeluarkan darah sbgai berikut :
Darah Kuning............ 12 hari
Darah Merah.............. 7 hari
------------------------
Maka haidnya ...... 7 hari
Istihadhahnya ...... 12 hari
Nb : Pada Mu'tadah Mumayyizah penentuan haid dgn Memandang darah Kuat, tidak memandang adat haid bulan sebelumnya.

4. MU'TADAH GHOIRU MUMAYYIZAH DZAKIROTUN LI ADATIHA QODRON WA WAQTAN
Wanita yg sudah pernah haid dan sudah pernah suci yang tidak MUMAYYIZ, dan ingat adat/kebiasaannya baik kira2 (lama)nya dan waktu (mulai) nya.

HUKUMNYA : Dikembalikan pada adat dan waktunya, maksutnya di hukumi dgn bagaimana adat/kebiasaan di bulan sebelumnya.

MISAL : Wanita biasa haid selama 7 hari disetiap awal bulan.
Pada bulan ini dia mengeluarkan darah selama 17 hari. Dia juga tidak bisa membedakan warna darah, atau darahnya keluar dgn 1 warna.
maka dapat kita hukumi, sesungguhnya HAID nya 7 hari karena di samakan dgn keaiasaan bulan2 sebelumnya, dan 10 hari yang terakhir adalah istihadloh.

5. MU'TADAH GHOIRU MUMAYYIZAH NASIYATUN LI ADATIHA QODRON WA WAQTAN (MUTAHAYIROH)
Wanita yg sudah pernah haid dan sudah pernah suci yang tidak MUMAYYIZ, dan LUPA adat/kebiasaannya baik kira2 (lama)nya dan waktu (mulai) nya.

MISAL : Wanita yg mengeluarkan darah selama 20 hari dan darahnya tidak bisa di bedakan artinya darahnya hanya 1 warna, atau darah dapat di bedakan tp tidak memenuhi sarat2 TAMYIZ, serta dia lupa kira2 haidnya jg waktunya, entah di awal, tengah, atau ahir bulan.

HUKUMNYA : Baginya hukum Haid dalam masalah yang di haramkan (Bersenang2 di antara pusar dan lutut, membaca al-Qur'an selain solat, memegang dan membawa mushaf, diam di masjid serta lewat di masjid apabila takut menetes darahnya). Dan hukum SUCI dalam masalah Kewajiban (Solat, puasa, thowaf, thalaq, i'tikaf, dan wajib mandi setiap 1 perkara Fardlu)

NB: Tata cara puasanya ialah, Dia puasa bulan romadlon sebulan penuh, di tambah lagi puasa 1 bulan penuh. Maka dia telah puasa 28 hari secara yakin SUCI. Masih kurang 2 hari (1 bulan = 30 hari) maka cara puasa yg kurang 2 hari ialah, berpuasa 3 hari berturut-turut, tidak puasa 12 hari berturut-turut, kemudian berpuasa lagi 3 hari berturut-turut.
Jadilah dia puasa 30 hari yg YAKIN SUCI.

6. MU'TADAH GHOIRU MUMAYYIZAH DZAKIROTUN LI ADATIHA QODRON LA WAQTAN

Wanita yg sudah pernah haid dan sudah pernah suci yang tidak MUMAYYIZ, dan ingat adat/kebiasaannya dalam kira2 (lama)nya tidak dalam waktu (mulai) nya.

MISAL : Wanita berkata, Aku biasanya haid selama 5 hari di 10 hari pertama dan aku tidak tahu mulainya. Tapi aku tahu dan yakin sesungguhnya hari pertama aku Suci. Dan bulan ini aku keluar darah 1 bulan penuh.

HUKUMNYA : Dihukumi, Hari ke 6 Haid secara Yakin, dan hari pertama Suci secara yakin,seperti halnya 20 hari terahir.
Adapun hari ke 2 sampai ke 5 ada kemungkinan bisa Haid bisa juga Suci. Begitu juga hari ke 7 sampai 10 ada kemungkinan seperti itu juga (bisa Haid bisa juga Suci). Karena kondisi seperti (ada kemungkinan Suci dan juga Haid) ini, dia di hukumi seperti halnya MUTAHAYIROH.

7. MU'TADAH GHOIRU MUMAYYIZAH DZAKIROTUN LI ADATIHA WAQTAN LA QODRON.
Wanita yg sudah pernah haid dan sudah pernah suci yang tidak MUMAYYIZ, dan ingat waktu (mulai) nya tidak dengan kira2/lamanya.

MISAL : Seperti ada wanita yg berkata, Aku biasa Haid di awal bulan tapi tidak tahu berapa lamanya, dan di bulan ini aku keluar darah 1 bulan penuh.

HUKUMNYA : Awal bulan (tgl 1) yakin Haid, setengah di hari yg kedua Yakin Suci. Dan diantara hal itu (2 sampai 15) ada kemungkinan Haid dan juga Suci. Pada bagian yang YAKIN (baik yakin suci atau yakin Haid) itu menggunakan hukumnya sendiri2 (Haid pakai hukum Haid, Suci pakai hukum Suci). Dan hari yg ada kemungkinan Haid juga Suci pakai Hukum MUTAHAYIROH.

(Lihat : at-Taqriroh as-Sadidah hal 167 - 170,
Hasyiyah Bajuri hal 112 - 115,
Mughni Muhtaj juz 1 hal 111 - 120,
Hasyiyah al-Bujairimi ala al-Iqna' juz 1 hal 350)

PENUTUP
يجب لنحو مستحاضة الوضوع لكل فرض و كذا غسل الفرج و إبدال القطنة التي بفمه و العصابة و إن لم تنتقل عن موضعها و إن لم يظهر الدم مثلا من جوانبها (إعانة الطالبين)
Wajib bagi wanita istihadhah, wudlu tiap ingin solat Fardlu, membasuh farji, dan (Maaf) menyumpal bibir kemaluan dengan Kapas/selainnya. Meskipun darah tak terlihat dari kanan kirinya.
(Lihat : I'anah at-Tholibin)
NB: Kecuali bila dia merasa sakit dgn hal itu atau sedang puasa maka tidak boleh (maaf) menyumpal farjinya karena hal ini dapat membatalkan puasa.
وطء المستحاضة جاءىز عند أبي حنيفة و الشافعي و مالك كما تصوم و تصلي و قال أحمد لا يجوز وطء المستحاضة في الفرج إلا أن يخاف زوجوها العنت و هو الزنا فيجوز في أصح الروايتين.
(رحمة الأمة في اختلاف الأءىمة)
Menjima' atau menyetubuhi wanita yg istihadhah itu boleh menurut Imam Abi Hanifah, Syafi', dan Malik seperti halnya puasa dan solat. Menurut Imam Ahmad bin Hanbal tidak boleh.
Dan paling shohihnya 2 riwayat itu boleh.
(Lihat: Rohmah al-Ummah fi Ikhtilaf al-A_immah)
{تنبيه مهم} يجب على المرأة تعلم ما تحتاج إليه من أحكام الحيض و الإستحاضة و النفاس. فإن كان زوجها عالما لزمه تعليمها و إلا فلها الخروج لسوأل العلماء بل يجب و يحرم عليه منعها إلا أن يسأل هو و يخبرها فتستغني بذلك. و ليس لها الخروج إلى مجلس ذكر أو تعلم خير إلا برضاه.
(مغني المحتاج الجزء 1 ص 120)
"Peringatan Penting" : Wajib bagi seorang perempuan belajar sesuatu yg dia butuhkan dari Hukum-hukum haid, istihadhah, dan nifas. Apabila suaminya alim/mengetahui maka wajib bagi sang suami untuk mengajarinya.
Dan bila sang suami tidak mengerti, maka boleh baginya keluar untuk bertanya pada ulama' bahkan wajib. Dan suami haram melarangnya, kecuali dia sendiri yg bertanya lalu memberi tahu istrinya sehingga dia tak perlu keluar rumah. Tidak boleh bagi istri keluar ke Majlis dzikir atau tempat belajar kebaikan kecuali dengan ridlo dari suami.
(Lihat: Mughni Muhtaj juz 1 hal 120)

Semoga bisa di fahami dan dapat bermanfaat.